Definisi Kultur Jaringan
A. Definisi Kultur Jaringan
Kultur jaringan/Kultur In Vitro/Tissue Culture adalah
suatu teknik untuk mengisolasi, sel, protoplasma, jaringan, dan organ dan
menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang mengandung zat pengatur tumbuh
tanaman pada kondisi aseptik,sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak
diri dan beregenerasi menjadi tanaman sempurna kembali (Nasir, 2002).
Menurut (Nasir, 2002) tahapan yang dilakukan dalam
perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:
1)
Pembuatan media
2)
Inisiasi
3)
Sterilisasi
4)
Multiplikasi
5)
Pengakaran
6)
Aklimatisasi
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan
dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis
tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam
mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan
seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan
juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari
kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung
reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan
dengan cara memanaskannya dengan autoklaf (Nasir, 2002).
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian
tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk
kegiatan kultur jaringan adalah tunas (Nasir, 2002).
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur
jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan
menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap
peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada
peralatan yang digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus
steril (Nasir, 2002).
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon
tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar
air flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya
pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada
rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar (Nasir, 2002).
Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan
adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang
dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk
melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya
kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan
menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau
busuk (disebabkan bakteri) (Nasir, 2002).
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan
keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati
dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk
melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil
kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar.
Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap
sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan
pemeliharaan bibit generatif (Nasir, 2002).
B. Pengertian
Mikropropagasi
Mikropropagasi termasuk dalam ilmu dan
seni memperbanyak tanaman di dalam wadah kaca dalam kondisi steril (the art and
science of multiplying plants in vitro). Mikropropagasi merupakan bagian dari
teknik kultur jaringan tanaman (Plant Tissue Culture), yang berskala komersial.
Selain itu, teknik mikropropagasi ini juga sering disebut dengan micro cutting
(mini stek). Bagian tanaman yang diperbanyak atau dipropagasi adalah meristem (jaringan tanaman
muda yang sedang tumbuh) dan tunas tanaman (tunas akar, tunas pucuk, tunas
samping dan mata tunas) (Nugrahani, dkk, 2011).
Menurut Nasution (2013), mikropropagasi
adalah pengembangbiakan tanaman secara in vitro dengan metode kultur jaringan.
Sedangkan kultur jaringan dapat didefinisikan sebagai bagian jaringan tanaman
yang telah dipisahkan dari tanaman asalnya dan ditumbuhkan dalam keadaan steril
pada suatu medium artifisial dan sel-selnya mampu tumbuh dan mengadakan
pembelahan.
Mikropropagasi dan kultur jaringan itu
merupakan Teknik perbanyakan tanaman dengan cara menumbuhkan bagian (jaringan)
tanaman dalam media buatan yang kaya nutrisi & ZPT yang tembus cahaya
secara aseptik agar beregenerasi menjadi tanaman lengkap (Makhizah, 2012).
Menurut Nugrahani, dkk, (2011), Prinsip
utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan
bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan dalam wadah yang steril. Dengan demikian Kultur Jaringan
Tanaman dapat didefinisikan sebagai teknik menumbuh kembangkan bagian
tanaman, baik berupa
sel, jaringan maupun
organ dalam kondisi aseptik secara in vitro.
C. Tahapan Mikropropagasi
Dalam
pelaksanaannya,
mikropropagasi dilakukan di
dalam suatu laboratorium yang
terjaga sterilitasnya. melalui beberapa tahapan:
1.
Tahap 1: Seleksi tanaman induk
Sebelum
perbanyakan perlu dilakukan seleksi tanaman induk dengan memperhatikan kualitas
produksi dan kesehatan tanaman untuk mendapatkan bahan tanaman yang steril.
2.
Tahap 2: Pemantapan kultur aseptik
Pada tahap
ini bertujuan untuk mendapatkan bahan tanaman (eksplan) yang steril. Tahap ini
merupakan tahap yang sulit karena harus mendapatkan bahan tanaman yang bebas
dari patogen.
3.
Tahap 3: Produksi propagula
(multiplikasi)
Tahap ini
bertujuan untuk mendapatkan jaringan atau organ yang dapat digandakan untuk
menjadi bahan perbanyakan selanjutnya. Bahan perbanyakan tersebut dapat berupa
tunas aksilar, tunas adventif atau embrio.
4.
Tahap 4: Persiapan plantlet untuk
aklimatisasi
Pada tahap
ini biakan harus menjadi tanaman lengkap (plantlet) yang siap untuk diaklimatisasi.
5.
Tahap 5: Aklimatisasi
Tahap ini
merupakan tahap adaptasi dari plantlet yang berasal dari kondisi steril ke
kondisi semi steril sebelum dipindahkan ke lapangan. Diperlukan kondisi khusus agar
tanaman tidak mengalami shock, antara lain kelembaban dijaga agar tetap tinggi,
suhu dan intensitas cahaya yang tidak terlalu tinggi.
D. Kelemahan dan Kelebihan
Mikropropagasi
Menurut Rahmat (2011), Kelemahan dalam
mikropropagasi adalah sebagai berikut:
1. Fasilitas
yang digunakan cukup mahal.
2. Secara
ekonomi tidak dapat diaplikasikan untuk keperluan komersial berbagai jenis
tumbuhan (terutama bila dilakukan dalam skala kecil).
3. Memerlukan
keterampilan tertentu yang dapat bersifat speciesspesific.
4. Kesalahan
dalam pemeliharaan, seperti masuknya patogen dapat termultiplikasi dalam waktu
singkat.
5. Berpotensi
untuk terjadinya modifikasi genetik atau epigenetik.
Kelebihan
atau keunggulan dalam kiropropagasi adalah sebagai berikut:
1. Mampu
menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat.
2. Tidak
terlalu membutuhkan tempat yang luas.
3. Mempunyai
sifat yang sama dengan induknya sehingga seragam.
4. Kesehatan
dan mutu bibit lebih terjamin.
E. Kendala Dan Faktor Yang
Mempengaruhi Keberhasilan Propagasi In
Vitro
Menurut
Nugrahani, dkk, (2011), disamping keberhasilan dan kemajuan teknik perbanyakan
tanaman in vitro, ada beberapa kendala
yang masih dihadapi dalam pelaksanaan, antara lain:
1. Keterbatasan
peralatan dan fasilitas pendukung operasi
2. Kemampuan
manajerial dan operasional personal laboran
3. Protokol
/ Prosedur yang tidak dapat berlaku untuk seluruh spesies tanaman
4. Harga
bahan media relatif masih mahal.
5. Perlu
penyesuaian dengan standar industri.
Keberhasilan
teknik propagasi secara in vitro ini ditentukan oleh beberapa faktor, antara
lain:
a) Faktor
tanaman
Genotipe tanaman:
varietas, species tanaman induk
Kondisi eksplan
: jenis eksplan,
ukuran, umur, fase
fisiologis jaringan
b) Faktor
lingkungan tumbuh
Suhu: ± 25oC
Kelembaban : 80-99%
(botol tertutup rapat)
Cahaya : sumber cahaya
ruang kultur adalah lampu TL ±1000 lux
Media tanam : jenis
media, komposisi media, hormon
c) Faktor
sterilitas / kondisi aseptik
Sterilitas bahan dan
peralatan laboratorium: penggunaan autoklaf.
Sterilitas ruang:
penggunaan bahan antiseptic (kloroform, alkohol).
Sterilitas dalam
pelaksanaan: penggunaan entkas
dan laminar air flow.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Mikropropagasi merupakan perbanyakan dari galur
tanaman yang terpilih melalui teknik kultur jaringan. Teknik yang paling mudah
dalam perbanyakan tanaman secara in vitro adalah menstimulasi
perkembangan tunas aksiler. Mikropropagasi
memungkinkan diperolehnya bibit tanaman secara cepat dengan kualitas yang baik,
bebas penyakit dan seragam. Teknik mikropropagasi tanaman hortikultura dan tanaman
kehutanan dengan mutu tinggi menciptakan peluang baru dalam perdagangan global.
DAFTAR PUSTAKA
Makhizah.
2012. Mikropropagasi Kultur Jaringan. Website:http://elearning.upnja
tim.ac.id/courses/MK001/document/II._MIKRO_PROPAGASI.pdf.
diakses pada hari Senin, tanggal 14 Maret 2016 pukul 14.13 WIB.
Nasution.
2013. Mikropropagasi. Website: http://adln.lib.unair.ac.id/files/disk1/5
41/gdlhub-gdl-s1-2013-nasutionmy-27024-8.-bab-i--.pdf.
diakses pada hari Senin, tanggal 14 Maret 2016 pukul 14.20 WIB.
Nugrahni,
dkk. 2011. Teknik propagasi secara in vitro. Website: http://Elearning
.Upnjatim.Ac.Id/Courses/MK001/Document/MODUL_Biotek-2.pdf.diakses
pada hari Senin, tanggal 14 Maret 2016 pukul 14.28 WIB.
Nasir, M. 2002. Bioteknologi Molekuler. PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung.
Rahmat,
Adi. 2011. Bioteknologi Mikropropagasi Tumbuhan. Website:
Adirahmat/pointkuliah/Bioteknologi/BIOTEKNOLOGI_3.pdf. diakses pada hari Senin,
tanggal 14 Maret 2016 pukul 14.08 WIB.
Comments
Post a Comment