Makalah Signifikansi Dan Urgensi Agama
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya
diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui nabi Muhammad Saw. Sumber ajarannya
meliputi berbagai segi dari kehidupan manusia berupa al-Qur’an dan Hadits dan
merupakan bagian pilar penting kajian islam sekaligus pijakan dan pegangan
dalam mengakses wacana pemikiran dan membumikan praktik penghambaan kepada
Tuhan, baik yang bersifat teologis maupun humanistis.
Pendidikan secara komunal merupakan
penolong utama bagi manusia untuk menjalani kehidupan ini yang sekaligus
membedakan eksistensi dengan hewan. Tanpa pendidikan, maka manusia sekarang
ini tidak akan berbeda dengan keadaan pendahulunya pada era purbakala
sedangkan pendidikan islam berusaha mengantarkan manusia mencapai keseimbangan
pribadi secara menyeluruh,melahirkan manusia-manusia yang bermutu dan dapat
merasakan ketenangan hidup jika di bandingkan dengan kehidupan yang para
pendahulunya. Pendidikan islam (Dirasah Islamiyah) secara harfiah adalah
kajian tentang hal-hal yang berkaitan dengan keislaman dan sebagai pranata
sosial juga sangat terikat dengan pandangan islam tentang hakekat keberadaan (eksistensi)manusia.
Oleh karena itu, pendidikan islam juga berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan
kesadaran bahwa manusia itu sama di depan ilahi yang membedakan hal
tersebut ialah kadar ketakwaan sebagai bentuk perbedaan secara kualitatif.
Islam secara harfiyah berasal dari
bahasa arab yang berarti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima diubah
bentuk menjadi bentuk aslama yang artinya berserah diri. Berpijak pada
arti tersebut maka kajian islam mengarah pada tiga hal: Pertama : Islam
yang mengarah pada ketundukan atau berserah diri kepada Tuhan satu-satunya
sumber otoritas yang serba mutlak. Keadaan ini membawa pada timbulnya pemahaman
terhadap orang yang tidak patuh dan tunduk sebagai wujud dari penolakan
terhadap fitrah dirinya sendiri. Kedua : Islam dapat dimaknai suatu
pengarahan kepada keselamatan dunia dan akhirat karena ajaran islam pada
hakikatnya membina dan membimbing manusia untuk berbuat kebajikan dan menjauhi
semua larangan dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Ketiga :
Islam bermuara pada kedamaian. Manusia merupakan salah satu unsur yang hidup
dan diciptakan dari sumber yakni thin melalui seorang ayah dan ibu
sehingga manusia harus berdampingan dan harmonis dengan manusia yang lain,
makhluk yang lain bahkan berdampingan dengan alam raya.
B.
Rumusan Masalah
Adapun yang akan dibahas serta menjadi rumusan masalah dalam makalah ini
adalah sebagai berikut:
1.
Apa
pentingnya studi islam?
2.
Bagaimana
signifikansi dan urgensi agama?
3.
Bagaimana
dinamika dan perkembangan studi islam?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan tentang
dinamika studi islam agama.
D.
Manfaat Penulisan
Manfaat yang akan diperoleh
dari penulisan makalah ini adalah dapat lebih memahami islam dalam dinamika
studi agama, urgensi dan signifikansi agama, dan dinamika perkembangan
perkembangan studi agama.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pentingnya
Study Islam
Dalam study islam, kajian yang
dilakukan oleh umat berbeda dengan kajian yang dilakukan oleh kalangan non
muslim. Bagi umat islam, mempelajari islam mungkin untuk memantapkan iman dan
mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya, sedangkan bagi non muslim
hanya sekedar diskursus ilmiah bahkan mencari kelemahan umat islam. Dengan
demikian pemahaman, pendalaman serta pembahasan terhadap ajaran-ajaran Islam
supaya dapat dilaksanakan dan diamalkan dengan benar oleh umat Islam, serta
menjadikannya sebagai pegangan dan pedoman hidup. Untuk mencapai tujuan
tersebut dibutuhkan kerangka pendalaman secara spesifik diantaranya:
1.
Pengkajian dan pendalaman terhadap
esensi agama dan hubungannya dengan agama lain. Islam diturunkan oleh Allah
untuk membimbing dan mengarahkan serta menyempurnakan agama-agama agar
pemeluknya selamat didunia dan akhirat. Agama-agama yang mengalami penyimpangan
diarahkan menjadi agama yang monotheistik.
2.
Pengkajian dan pendalaman terhadap
pokok-pokok ajaran islam. Sebagai agama fitrah, pokok-pokok ajaran islam perlu
ditransformasikan dalam berbagai dimensi sehingga mampu berkembang dengan baik
dan berinteraksi dengan lingkungan budaya yang dinamis.
3.
Pengkajian dan pendalaman terhadap
sumber-sumber ajaran islam al-Qur’an dan hadits menjadi landasan dalam berpikir
dan berkiprah. Sebagai landasan, al-Qur’an dan hadits perlu dipahami secara
kontekstual, sehingga umat islam dapat menyelesaikan masalah kehidupan manusia
dan mampu menjawab tantangan zaman.
4. Pengkajian
dan pendalaman terhadap prinsip-prinsip dan nilai-nilai islam. Islam adalah
agama yang mempunyai misi rahmatan lil’alamiin, memiliki prinsip dan
nilai yang universal. Beberapa prinsip yang terkandung dalam tujuan study
islam.
B. Signifikansi dan Urgensi Studi
Agama
Berbicara
tentang hubungan antar agama, wacana
pluralisme agama menjadi perbincangan utama. Pluralisme agama sendiri dimaknai secara berbeda-beda di kalangan
cendekiawan Muslim Indonesia, baik secara sosiologis, teologis maupun etis.
1.
Signifikansi
Metedologi Studi Islam
Dari segi tingkatan kebudayaan,
agama merupakan universal cultural. Salah
satu prinsip teori fungsional menyatakan
bahawa segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya.
Karena sejak dulu hingga sekarang agama dengan tangguh menyatakan eksitensinya,
berarti ia mempunyai dan memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat.
Oleh karena itu, secara umum, studi islam menjadi penting karena agama,
termasuk islam, memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat.
Dalam pengantar symposium nasional
yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana (FKMP) IAIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, tanggal 6 Agustus 1998 di pusat pengkajian Islam
dan Masyarakat (PPIM), Harun Nasution mengatakan bahwa personal yang menyangkut
usaha perbaikan pemahaman dan penghayatan agama, terutamadari sisi etika dan
moralitasnya, kurang mendapat tempat yang memadai.
Situasi keberagaman di Indonesia
yang legalistik-formalistik. Agama harus dimanifestikan dalam bentuk ritual formal,
sehingga muncul formalisme keagamaan yang lebih mementingkan bentuk daripada
isi. Kondisi seperti itu menyebabkan agama kurang dipahami sebagai perangkat
paradigm moral dan etika yang bertujuan membebaskan manusia dari kebodohan,
keterbelakangan, dan kemiskinan. Di samping itu, formalisme gejala keagamaan
yang cenderung invidualistik daripada kesalahan social mengakibatkan munculnya
sikap kontra produktif seperti nepotisme, kolusi, dan korupsi. Harun Nasution
berpandangan bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang orang yang
melaksanakan perintah tuhan dan menjauhi cegahanya. Dengan demikian, orang yang
bertakwa adalah orang yang melaksanakan perintah orang yang dekat dengan tuhan;
dan yang dekat dengan dengan yang maha suci adalah suci; orang-orang yang
sucilah orang yang mempunyai moral yang tinggi.
Gambaran yang dikemukakan oleh Harun
Nasetion di atas mendapat sambutan cukup serius dari Masdar F. Mas’udi. Masadar
F. Mas’udi mengatakan bahwa kesalahan
kita, sebagai umat islam di Indonesia, adalah mengabaikan agama sebagai sistem
nilai etika dan moral yang releven bagi kehidupan manusia sebagai makhluk hidup
yang bermartabat dan berakal budi. Karna itulah, kita serentak ketika temuan
memperlihatkan kepada dunia sesuatu yang sangat ironi: Negara Indonesia yang
penduduknya 100% beragama, mayoritas beragama. Islam (sekitar 90%), dan para
pejabatnya rajin merayakan hari-hari besar agama, ternyata menduduki peringkat
terkemuka di antara negara-negara yang paling korup di dunia.
Dari gambaran umat Islam di
Indonesia di atas, kita dapat mengetahui bahwa agama Islam di Indonesia belum
sepenuhnya dipahami dan dihayati oleh umat islam. Oleh karena itu, signifikasi
study islam di Indonesia adalah mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman
masyarakat Muslim Indonesia secara khusus, dan masyarakat beragama pada umunya.
Adapun perubahan yang diharapkan adalah format formalisme keagamaan islam
diubah diubah menjadi format agama yang substantif. Sikap engklusivisme, kita
ubah menjadi format agama yang subnstantif. Sikap engklusivisme, kita ubah
menjadi sikap universalisme, yakni agama yang tidak mengabaikan nilai-nilai
spiritualis dan kemanusiaan karena pada dasarnya agama di wahyukan untuk
manusia. Disamping itu, study islam diharapkan mampu melahirkan suatu komunitas
yang mampu dapat mempertemukan dan mencari jalan keluar dari konflik
intra-agama Islam; tampaknya konflik internal umat islam yang didasari dengan
organisasi formal keagamaa belum sepenuhnya final. Di samping itu, akhir-akhir
ini kita dihadapkan pada krisis nasional. Salah satunya krisis kerukunan umat
beragams: pembakaran gereja di Ketapang Jakarta dan Babjarmasin ciamis,
pembakaran masjid di Ambon, serta persoalan-persoalan lainya. Study islam
diharapkan melahirkan suatu masyarakat yang siap hidup toleran (tasamuh) dalam
wawancara pluaralitas agama sehingga, sehingga tidak melahirkan muslim ekstrem
yang membalas kekerasan pula: pembakaran masjid dibalas dengan pembakaran
gereja. Oleh karena itu, dalam situasi hidup keberagaman Indonesia, study
agama. Terutama Islam, karena merupakan agama yang dianut oleh mayoritas
penduduk, dan sangat penting dilakukan.
2.
Urgensi Metedologi Studi Islam
Menurut Amin Abdulloh, titik tolak kesulitan
pengembangan skup wilayah kajian Islamic
studies, berakar pada kesukaran seorang agamawan untuk membedakan antara normativitas dengan historitas. Pada dataran normativitas
kelihatan islam islam kurang pas
untuk dikatakan disiplin ilmu, sedangkan untuk dataran normativitas tampaknya tidak
salah. Pada dataran normativitas,
study islam masih banyak terbebani oleh misi oleh misi keagamaan yang bersifat
memihak, subjektif, dan apologis (pembelaan suatu keyakinan). Sehingga, kadar
muatan yang bersifat analis, kritis, metodologis, historis, dan empiris,
(terutama dalam menelaah kajian-kajian keagamaan produk sejarah terlebih
dahulu), kurang begitu ditonjolkan. Bersdasarkan uraian di atas, pentingnya
studi Islam adalah untuk melihat Islam dari berbagai sudut pandang, baik dari
sudut normativitas ajaran wahyu yang dibangun, diramu , dilakukan, dan ditelaah
melalui doktrin teologis. Sedangkan historitas beragama, ditelaah melalui berbagai
sudut pendekatan keilmuan social
keagamaan yang bersifat multi disipliner, baik lewat pendekatan historis, filosofis, psikologis, sosiologis,
cultural, maupun antropologis.
a. Tujuan yang harus dicapai
Pada setiap mata pelajaran studi islam biasanya memiliki tujuan yang
berbeda-beda antara satu dengan yang lainya. Misalnya pada tujuan pengajaran
Tafsir al-Qur’an dan hadis berbeda
dengan tujuan pelajaran akhlak tasawuf. Dan pelajaran tauhid berbeda
tujuanya dengan pelajaran ilmu fikih, demikian sebaliknya.
b. Kemampuan guru
Efektif tidaknya suatu metode juga sangat dipengaruhi pada kemampuan guru memakainya disamping
kepribadian guru memang cukup dominan pengaruhnya.
c. Anak didik
Memilih dan menetapkan suatu
metode adalah masalah-masalah anak didik. Di mana guru berhadapan dengan
makhluk hidup yang bernama anak didik dengan potensi dan fitrah yang
dimilikinya member kemungkinan dan sekaligus harapan untuk berkembang dengan
baik ke ara pribadi yang sempurna.
C. Dinamika dan Perkembangan Studi Islam
1. Sejarah Perkembangan Studi Islam di Dunia
Timur
Perkembangan agama Islam tdak lepas dari perembangan
ilmu pengetahuan dunia/ umum. Tepatnya pada
akhir periode madinah sampai dengan 4 H, fase pertama pendidikan islam
masih di masjid-masjid dan rumah-rumah,
dengan ciri hafalan. Namun sudah
diperkenalkan logika matematika, ilmu alam, kedokteran, kimia, musik, sejarah
dan geografi. Selama abad ke-5 H, selama periode Khalifah Abbasyiah,
sekolah-sekolah didirikan di kota-kota dan mulai menempati gedung-gedung besar,
bukan lagi masjid, dan mulai yang bersifat intelektual, ilmu alam dan ilmu
sosial.
Berdirinya sistem madrasah adalah di abad 5 H/akhir
abad 11 M, justru
menjadi titik balik kejayaan. Sebab madrasah dibiayai dan diprakarsai negara.
Kemudian madrasah menjadi alat penguasa untuk mempertahankan doktrin-doktrin
terutama oleh Kerajaan Fatimah di Kairo. Sebelumnya di sekolah ini diajarkan
kimia, kedokteran, filsafat, diganti
hanya mempelajari tafsir, kalam fiqih
dan bahasa. Matematika hilang dari kurikulum Al-Azhar tahun 1748 M. Memang pada
masa kekhalifahan Abbasyiah Al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M), sebelum hancurnya
aliran Mu’tazilah, ilmu-ilmu umum yang bertitik tolak dari nalar dan
kajian-kajian empiris dipelajari di madrasah.
Pengaruh Al-Ghazali
(1085-1111 M) disebut sebagai awal pemisahan ilmu agama dengan ilmu umum. Ada beberapa kota yang menjadi pusat kajian islam di zamannya, yaitu Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus dan
Jerussalem. Ada empat perguruan tinggi tertua di dunia muslim, yaitu (1)
Nizhamiyah di Baghdad (2) Al-Azhar di Kairo Mesir (3) Cordova (bagian barat)
dan (4) Kairwan Amir Nizam Al-Muluk di Maroko. Sejarah singkat masing-masing
pusat studi islam di gambarkan sebagai berikut:
a.
Nizhamiyah di Baghdad
Perguruan tinggi Nizhamiyah di Baghdad ini berdiri
pada tahun 445 H/1063 M. Perguruan tinggi ini dilengkapi dengan perpustakaan
yang terpandang kaya raya di baghdad, yakni Bait Al-Hikmah yang dibangun oleh
Khalifah Al-Makmun (813-833 M), salah seorang ulama besar yang pernah mengajar di sana, adalah ahli pikir islam
terbesar, Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111 M), yang kemudian terkenal dengan
sebutan Imam Ghazali.
Di lembaga ini ada empat unsur pokok, yakni (1)
seorang mudarris (guru besar) yang bertanggung jawab terhadap pengajaran di
lembaga pendidikan, muqri’ (ahli Al-Qur’an) yang mengajar Al-Qur’an di masjid,
muhaddis (ahli hadis) yang mengajar hadis lembaga pendidikan, dan seorang
pustakawan (Bait Al-Maktub) yang bertanggung jawab terhadap perpustakaan,
mengajar bahasa dan hal-hal yang terkait.
Perguruan tinggi tertua di Baghdad ini hanya sempat
hidup hampir dua abad. Yang akhirnya hancur akibat penyerbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulaghu Khan pada tahun 1258 M.
b.
Al-Azhar di Kairo Mesir
Panglima besar Juhari Al-Siqili pada tahun 362 H/972 M
membangun Perguruan Tinggi Al-Azhar dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte
Syiah. Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Hakim Biamrillah (966-1020), khalifah
keenam dari Daulat Fathimiyah, ia pun membangun perpustakaan terbesar di
Al-Qahirah untuk mendampingi Perguruan Tinggi Al-Azhar, yang diberi nama Bait
Al-Hikmah (Balai ilmu pengetahuan), seperti nama perpustakaan terbesar di
Baghdad.
Pada tahun 567 H/1171 M Daulat Fathimiyah di
tumbangkan oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi yang mendirikan Daulat Ayyubiyah
(1171-1269 M) dan menyatakan tunduk kembali kepada Daulat Abbasyiah di Baghdad.
Kurikulum pada perguruan tinggi Al-Azhar
lantas mengalami perombakan total, dari aliran Syi’ah kepada aliran Sunni. Ternyata perguruan tinggi al-Azhar ini mampu hidup terus sampai
sekarang, yakni sejak abad ke-10 M sampai abad ke-20 M dan tampaknya akan tetap selama hidupnya.
Universitas al-Azhar dapat dibedakan menjadi dua
periode : pertama, periode sebelum tahun 1961 dan kedua, periode
setelah 1961, dimana fakultas-fakultasnya sama seperti yang ada di IAIN
sekarang, dan periode setelah tahun 1961, dimana fakultas-fakultas dan
ilmu-ilmu yang dikaji telah meliputi seluruh cabang ilmu pengetahuan umum dan
agama. Kalau peride pertama kita sebut periode Qadim (lama), dan kedua sebagai
periode Jadid (baru), maka yang dicontoh IAIN selama ini ialah Al-Azhar periode
Qadim.
c.
Perguruan Tinggi Cordova
Adapun sejarah singkat Cordova dapat digambarkan
demikian, bahwa di tangan Daulat Ummayah, semenanjung Liberia yang berabad-abad
sebelumnya terpandang daerah minus, berubah bagaikan disulap menjadi daerah
yang makmur dan kaya raya akan pembangunan bendungan-bendungan irigasi di sana sini menuruti contoh lembah Nil dan
lembah Ephrate. Bahkan pada masa berikutnya, Cordova menjadi pusat ilmu dan kebudayaan yang
gilang gemilang sepanjang zaman tengah. The
Historians’ History of the World menulis tentang peri keadaan pada
masa pemerintahan Amir Abdurrahman I (756-788 M) itu, sebagai berikut, demikian
tulis buku sejarah terbesar tersebut tentang perikeadaan Andalusia waktu itu,
yang merupakan pusat intelektual di eropa dan dikagumi kemakmurannya. Sejarah
mencatat, sebagai contoh, bahwa Aelhoud dari Bath (Inggris) belajar ke Cordova
pada tahun 1120 M, dan pelajaran yang dituntunnya adalah geometri, algebra
(aljabar), matematik. Gerard dari Cremona belajar di Toledo seperti halnya
Aelhoud ke Cordova. Begitu pula
tokoh-tokoh lainnya.
d.
Kairawan Nizam al-Muluk di Maroko
Perguruan tinggi Kairwan ini berada di kota Fez
(Afrika Barat). Perguruan tinggi ini bermula dibangun pada tahun 859 M oleh
puteri seorang saudagar hartawan di kota Fez, yang berasal dari Kairawan
(Tunisia). Pada tahun
305 H/918 M perguruan tinggi ini diserahkan kepada pemerintah dan sejak saat
itu menjadi perguruan tinggi resmi, yang
perluasan dan perkembangannya berada di bawah pengawasan dan pembiayaan negara.
Seperti halnya perguruan tinggi Al-Azhar, perguruan
tinggi Kairawan masih tetap hidup sampai sekarang. Di antara sekian banyak
alumninya adalah pejuang nasionalis muslim terkenal, diantaranya adalah Allal
Al-Fasi, dan Mahdi Ben Barka, yang berhasil mencapai kemerdekaan Maroko dari
penjajahan Perancis sehabis perang Dunia kedua, lalu pejabat PM Maroko di bawah
Sultan Muhammad V. Sedangkan ilmuan termasyhur yang pernah menjadi maha gurunya
antara lain Ibnu Thufail (1106-1185 M) dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M), pada masa
Daulat Almuwahhidin dari Eropa, maka nama Avenbacer (Abu bakar Ibnu Thufail)
dan Averroes (Ibnu Rusyd) dan Avempas (Ibnu Bajah) dan Alhazem (Imnu Hazmi) dan
lainnya, amat populer dan harum di Eropa.
Sebagai catatan, perguruan tinggi Al-Azhar (972 M) di
Mesir, dan perguruan tinggi Kairwan (859 M) di Maroko, adalah lebih tua
dibandingkan dengan perguruan tinggi Oxford (1163 M) dan perguruan tinggi
Cambridge (1209 M) di Inggris, dan perguruan tinggi Sorbonne (1253 M) di Perancis, perguruan tinggi Tubingen
(1477 M) di Jerman, dan perguruan tinggi Edinburg (1582 M) di Skotlandia.
Penyebab utama kemunduruan dunia muslim, khususnya di bidang ilmu pengetahuan adalah terpecahnya kekuatan politik
yang digoyang oleh tentara bayaran Turki.
Kemudian dalam kondisi demikian datang musuh dengan membawa bendera perang
salib. Akhirnya, Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan ketika itu
dihancurkan Hulaghu Khan tahun 1258 M. Pusat-pusat
studi termasuk yang dihancurkan Hulaghu Khan.
Dapat di simpulkan dari berbagai perguruan tinggi yang
telah muncul di dunia timur tersebut itu membuktikan bahwasannya dunia islam
pernah menguasai dunia ilmu pengetahuan khususnya di dunia timur.dan ini juga
membuktikan bahwa ajaran agama islam merupakan ajaran yang sempurna baik dari
segi ilmu ketuhanan maupun ilmu yang berkaitan dengan dunia.
2. Sejarah Perkembangan Studi Islam di Dunia Barat
Kemajuan peradaban barat
dimulai pada Periode Pertengahan (1250-1800 M), yang mana peradaban
islam pada periode ini mengalami stagnasi. Sedangkan peradaban barat mengalami
perkembangan yang sangat pesat dari ilmu pengetahuan dan teknologi sampai
sekarang ini. Sebenarnya perkembangan tersebut banyak dipengaruhi oleh ilmu
pengetahuan islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa Andalusia (Spanyol) pada
massa pemerintahan Bani Abbasiyah adalah merupakan salah satu tempat yang
paling utama bagi Eropa dalam menyerap peradaban islam baik dalam bentuk
hubungan politik, negara,
maupun perekonomian dan peradaban antar negara. Salah satu contoh yang kami ambil adalah pemikiran
Ibnu Rusyd yang melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berfikir.
Dari pemikiran Ibnu Rusyd inilah yang menarik minat
orang-orang barat untuk belajar. Diantara
pemuda Kristen Eropa yang belajar di Universitas-Universitas Islam di
Andalusia, seperti Universitas Codova (pendirinya abd Al Rahman III), Seville,
Malaga, Granada dan Salamanca. Selama mereka belajar di lembaga-lembaga
tersebut, mereka aktif menterjemahkan buku-buku karya para ilmuan muslim. Pusat
kegiatan terjemahan itu berada di Toledo. Setelah mereka kembali kenegara
masing-masing, mereka mendirikan Sekolah-sekolah dan Universitas. Universitas
yang pertama mereka dirikan di Eropa pada tahun 1231 Masehi.
Jadi, sudah jelaslah menurut kami, bahwa latar
belakang Berkembanganya Studi Islam di Dunia Barat adalah disebabkan para
pelajar barat yang datang ke Jazirah Arabiyah untuk belajar. Disamping itu juga
mereka telah berhasil menterjemahkan karya-karya ilmuan muslim kedalam bahasa
latin.
Gerakan ini pada akhirnya menimbulkan massa pencerahan
dan revolusi industri, yang menyebabkan Eropa maju. Dengan demikian Andalusia
merupakan sumber-sumber cahaya bagi Eropa, memberikan kepada benua itu manfaat
dari ilmu dan budaya Islam selama hampir tiga abad.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut, dapat
dikemukakan beberapa kesimpulan bahwa, dinamika studi Islam di Barat begitu
pesat dimana ditandai dengan adanya pusat kajian keagamaan semisal,
didirikannya The development of Islamic Studies in Canada, Temple
University, Leiden University dan Chicago University. Selain itu,
ditandai dengan adanya kajian-kajian baru dalam studi Islam di Barat
diantaranya pembaruan pemikiran Islam, dakwah Islam, pendidikan Islam, Politik
Islam, dan Ekonomi Islam. Dalam mempelajari Islam, tentunya mereka mempunyai
tujuan antara lain untuk menarik simpati umat Islam, melemahkan Islam dari
dalam, menunjukkan superioritas Barat, memperjuangkan doktrin Barat, dan
kepentingan negara-negara Barat lainnya.
Dinamika
studi Islam di Timur dimulai dengan diawali pembelajaran Islam di masjid-masjid
dan rumah, kemudian berkembang menjadi sekolah dan gedung, dan dilanjutkan
dengan adanya pemisahan ilmu agama dan umum.

Comments
Post a Comment