Makalah Signifikansi Dan Urgensi Agama


Makalah Signifikansi Dan Urgensi Agama 


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
 Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui nabi Muhammad Saw. Sumber ajarannya meliputi berbagai segi dari kehidupan manusia berupa al-Qur’an dan Hadits dan merupakan bagian pilar penting kajian islam sekaligus pijakan dan pegangan dalam mengakses wacana pemikiran dan membumikan praktik penghambaan kepada Tuhan, baik yang bersifat teologis maupun humanistis.
Pendidikan secara komunal merupakan penolong utama bagi manusia untuk menjalani kehidupan ini yang sekaligus membedakan eksistensi dengan hewan. Tanpa pendidikan, maka manusia sekarang ini  tidak akan berbeda dengan keadaan pendahulunya pada era purbakala sedangkan pendidikan islam berusaha mengantarkan manusia mencapai keseimbangan pribadi secara menyeluruh,melahirkan manusia-manusia yang bermutu dan dapat merasakan ketenangan hidup jika di bandingkan dengan kehidupan yang para pendahulunya. Pendidikan islam (Dirasah Islamiyah) secara harfiah adalah kajian tentang hal-hal yang berkaitan dengan keislaman dan sebagai pranata sosial juga sangat terikat dengan pandangan islam tentang hakekat keberadaan (eksistensi)manusia. Oleh karena itu, pendidikan islam juga berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bahwa manusia itu sama di depan ilahi  yang membedakan hal tersebut ialah kadar ketakwaan sebagai bentuk perbedaan secara kualitatif.
Islam secara harfiyah berasal dari bahasa arab yang berarti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima diubah bentuk menjadi bentuk aslama yang artinya berserah diri. Berpijak pada arti tersebut maka kajian islam mengarah pada tiga hal: Pertama : Islam yang mengarah pada ketundukan atau berserah diri kepada Tuhan satu-satunya sumber otoritas yang serba mutlak. Keadaan ini membawa pada timbulnya pemahaman terhadap orang yang tidak patuh dan tunduk sebagai wujud dari penolakan terhadap fitrah dirinya sendiri. Kedua : Islam dapat dimaknai suatu pengarahan kepada keselamatan dunia dan akhirat karena ajaran islam pada hakikatnya membina dan membimbing manusia untuk berbuat kebajikan dan menjauhi semua larangan dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Ketiga : Islam bermuara pada kedamaian. Manusia merupakan salah satu unsur yang hidup dan diciptakan dari sumber yakni thin melalui seorang ayah dan ibu sehingga manusia harus berdampingan dan harmonis dengan manusia yang lain, makhluk yang lain bahkan berdampingan dengan alam raya.

B.     Rumusan Masalah
Adapun yang akan dibahas serta menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Apa pentingnya studi islam?
2.    Bagaimana signifikansi dan urgensi agama?
3.    Bagaimana dinamika dan perkembangan studi islam?

C.    Tujuan Penulisan
 Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan tentang dinamika studi islam agama.

D.    Manfaat Penulisan
Manfaat yang akan diperoleh dari penulisan makalah ini adalah dapat lebih memahami islam dalam dinamika studi agama, urgensi dan signifikansi agama, dan dinamika perkembangan perkembangan studi agama.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pentingnya Study Islam       
Dalam study islam, kajian yang dilakukan oleh umat berbeda dengan kajian yang dilakukan oleh kalangan non muslim. Bagi umat islam, mempelajari islam mungkin untuk memantapkan iman dan mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya, sedangkan bagi non muslim hanya sekedar diskursus ilmiah bahkan mencari kelemahan umat islam. Dengan demikian pemahaman, pendalaman serta pembahasan terhadap ajaran-ajaran Islam supaya dapat dilaksanakan dan diamalkan dengan benar oleh umat Islam, serta menjadikannya sebagai pegangan dan pedoman hidup. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan kerangka pendalaman secara spesifik diantaranya:
1.    Pengkajian dan pendalaman terhadap esensi agama dan hubungannya dengan agama lain. Islam diturunkan oleh Allah untuk membimbing dan mengarahkan serta menyempurnakan agama-agama agar pemeluknya selamat didunia dan akhirat. Agama-agama yang mengalami penyimpangan diarahkan menjadi agama yang monotheistik.
2.    Pengkajian dan pendalaman terhadap pokok-pokok ajaran islam. Sebagai agama fitrah, pokok-pokok ajaran islam perlu ditransformasikan dalam berbagai dimensi sehingga mampu berkembang dengan baik dan berinteraksi dengan lingkungan budaya yang dinamis.
3.    Pengkajian dan pendalaman terhadap sumber-sumber ajaran islam al-Qur’an dan hadits menjadi landasan dalam berpikir dan berkiprah. Sebagai landasan, al-Qur’an dan hadits perlu dipahami secara kontekstual, sehingga umat islam dapat menyelesaikan masalah kehidupan manusia dan mampu menjawab tantangan zaman.
4.    Pengkajian dan pendalaman terhadap prinsip-prinsip dan nilai-nilai islam. Islam adalah agama yang mempunyai misi rahmatan lil’alamiin, memiliki prinsip dan nilai yang universal. Beberapa prinsip yang terkandung dalam tujuan study islam.

B.     Signifikansi   dan  Urgensi  Studi   Agama
Berbicara tentang hubungan antar agama, wacana pluralisme agama menjadi perbincangan utama. Pluralisme agama sendiri  dimaknai secara berbeda-beda di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia, baik secara sosiologis, teologis maupun etis.

1.         Signifikansi Metedologi Studi Islam
Dari segi tingkatan kebudayaan, agama merupakan universal cultural. Salah satu prinsip teori  fungsional menyatakan bahawa segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya. Karena sejak dulu hingga sekarang agama dengan tangguh menyatakan eksitensinya, berarti ia mempunyai dan memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat. Oleh karena itu, secara umum, studi islam menjadi penting karena agama, termasuk islam, memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat.
Dalam pengantar symposium nasional yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana (FKMP) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tanggal 6 Agustus 1998 di pusat pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM), Harun Nasution mengatakan bahwa personal yang menyangkut usaha perbaikan pemahaman dan penghayatan agama, terutamadari sisi etika dan moralitasnya, kurang mendapat tempat yang memadai.
Situasi keberagaman di Indonesia yang legalistik-formalistik. Agama harus dimanifestikan dalam bentuk ritual formal, sehingga muncul formalisme keagamaan yang lebih mementingkan bentuk daripada isi. Kondisi seperti itu menyebabkan agama kurang dipahami sebagai perangkat paradigm moral dan etika yang bertujuan membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Di samping itu, formalisme gejala keagamaan yang cenderung invidualistik daripada kesalahan social mengakibatkan munculnya sikap kontra produktif seperti nepotisme, kolusi, dan korupsi. Harun Nasution berpandangan bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang orang yang melaksanakan perintah tuhan dan menjauhi cegahanya. Dengan demikian, orang yang bertakwa adalah orang yang melaksanakan perintah orang yang dekat dengan tuhan; dan yang dekat dengan dengan yang maha suci adalah suci; orang-orang yang sucilah orang yang mempunyai moral yang tinggi.
Gambaran yang dikemukakan oleh Harun Nasetion di atas mendapat sambutan cukup serius dari Masdar F. Mas’udi. Masadar F. Mas’udi mengatakan  bahwa kesalahan kita, sebagai umat islam di Indonesia, adalah mengabaikan agama sebagai sistem nilai etika dan moral yang releven bagi kehidupan manusia sebagai makhluk hidup yang bermartabat dan berakal budi. Karna itulah, kita serentak ketika temuan memperlihatkan kepada dunia sesuatu yang sangat ironi: Negara Indonesia yang penduduknya 100% beragama, mayoritas beragama. Islam (sekitar 90%), dan para pejabatnya rajin merayakan hari-hari besar agama, ternyata menduduki peringkat terkemuka di antara negara-negara yang paling korup di dunia.
Dari gambaran umat Islam di Indonesia di atas, kita dapat mengetahui bahwa agama Islam di Indonesia belum sepenuhnya dipahami dan dihayati oleh umat islam. Oleh karena itu, signifikasi study islam di Indonesia adalah mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat Muslim Indonesia secara khusus, dan masyarakat beragama pada umunya. Adapun perubahan yang diharapkan adalah format formalisme keagamaan islam diubah diubah menjadi format agama yang substantif. Sikap engklusivisme, kita ubah menjadi format agama yang subnstantif. Sikap engklusivisme, kita ubah menjadi sikap universalisme, yakni agama yang tidak mengabaikan nilai-nilai spiritualis dan kemanusiaan karena pada dasarnya agama di wahyukan untuk manusia. Disamping itu, study islam diharapkan mampu melahirkan suatu komunitas yang mampu dapat mempertemukan dan mencari jalan keluar dari konflik intra-agama Islam; tampaknya konflik internal umat islam yang didasari dengan organisasi formal keagamaa belum sepenuhnya final. Di samping itu, akhir-akhir ini kita dihadapkan pada krisis nasional. Salah satunya krisis kerukunan umat beragams: pembakaran gereja di Ketapang Jakarta dan Babjarmasin ciamis, pembakaran masjid di Ambon, serta persoalan-persoalan lainya. Study islam diharapkan melahirkan suatu masyarakat yang siap hidup toleran (tasamuh) dalam wawancara pluaralitas agama sehingga, sehingga tidak melahirkan muslim ekstrem yang membalas kekerasan pula: pembakaran masjid dibalas dengan pembakaran gereja. Oleh karena itu, dalam situasi hidup keberagaman Indonesia, study agama. Terutama Islam, karena merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk, dan sangat penting dilakukan.

2.         Urgensi  Metedologi Studi Islam
Menurut Amin Abdulloh, titik tolak kesulitan pengembangan skup wilayah kajian Islamic studies, berakar pada kesukaran seorang agamawan untuk membedakan antara normativitas dengan historitas. Pada dataran normativitas kelihatan islam islam kurang pas untuk dikatakan disiplin ilmu, sedangkan untuk dataran normativitas  tampaknya tidak salah. Pada dataran normativitas, study islam masih banyak terbebani oleh misi oleh misi keagamaan yang bersifat memihak, subjektif, dan apologis (pembelaan suatu keyakinan). Sehingga, kadar muatan yang bersifat analis, kritis, metodologis, historis, dan empiris, (terutama dalam menelaah kajian-kajian keagamaan produk sejarah terlebih dahulu), kurang begitu ditonjolkan. Bersdasarkan uraian di atas, pentingnya studi Islam adalah untuk melihat Islam dari berbagai sudut pandang, baik dari sudut normativitas ajaran wahyu yang dibangun, diramu , dilakukan, dan ditelaah melalui doktrin teologis. Sedangkan historitas beragama, ditelaah melalui berbagai sudut pendekatan keilmuan social keagamaan yang bersifat multi disipliner, baik lewat pendekatan historis, filosofis, psikologis, sosiologis, cultural, maupun antropologis.
a.       Tujuan yang harus dicapai
Pada setiap mata pelajaran studi islam biasanya memiliki tujuan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainya. Misalnya pada tujuan pengajaran Tafsir al-Qur’an dan hadis berbeda  dengan tujuan pelajaran akhlak tasawuf. Dan pelajaran tauhid berbeda tujuanya dengan pelajaran ilmu fikih, demikian sebaliknya.
b.      Kemampuan guru
Efektif tidaknya suatu metode juga sangat dipengaruhi pada kemampuan guru memakainya disamping kepribadian guru memang cukup dominan pengaruhnya.
c.       Anak didik
Memilih dan menetapkan suatu metode adalah masalah-masalah anak didik. Di mana guru berhadapan dengan makhluk hidup yang bernama anak didik dengan potensi dan fitrah yang dimilikinya member kemungkinan dan sekaligus harapan untuk berkembang dengan baik ke ara pribadi yang sempurna.

C.    Dinamika dan Perkembangan Studi Islam
1.       Sejarah Perkembangan Studi Islam di Dunia Timur
Perkembangan agama Islam tdak lepas dari perembangan ilmu pengetahuan dunia/ umum. Tepatnya pada  akhir periode madinah sampai dengan 4 H, fase pertama pendidikan islam masih di masjid-masjid  dan rumah-rumah, dengan ciri hafalan. Namun sudah diperkenalkan logika matematika, ilmu alam, kedokteran, kimia, musik, sejarah dan geografi. Selama abad ke-5 H, selama periode Khalifah Abbasyiah, sekolah-sekolah didirikan di kota-kota dan mulai menempati gedung-gedung besar, bukan lagi masjid, dan mulai yang bersifat intelektual, ilmu alam dan ilmu sosial.
Berdirinya sistem madrasah adalah di abad 5 H/akhir abad 11 M, justru menjadi titik balik kejayaan. Sebab madrasah dibiayai dan diprakarsai negara. Kemudian madrasah menjadi alat penguasa untuk mempertahankan doktrin-doktrin terutama oleh Kerajaan Fatimah di Kairo. Sebelumnya di sekolah ini diajarkan kimia, kedokteran, filsafat, diganti hanya mempelajari tafsir, kalam fiqih dan bahasa. Matematika hilang dari kurikulum Al-Azhar tahun 1748 M. Memang pada masa kekhalifahan Abbasyiah Al-Ma’mun (198-218 H/813-833 M), sebelum hancurnya aliran Mu’tazilah, ilmu-ilmu umum yang bertitik tolak dari nalar dan kajian-kajian empiris dipelajari di madrasah.
Pengaruh Al-Ghazali (1085-1111 M) disebut sebagai awal pemisahan ilmu agama dengan ilmu umum. Ada beberapa kota yang menjadi pusat kajian islam di zamannya, yaitu Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus dan Jerussalem. Ada empat perguruan tinggi tertua di dunia muslim, yaitu (1) Nizhamiyah di Baghdad (2) Al-Azhar di Kairo Mesir (3) Cordova (bagian barat) dan (4) Kairwan Amir Nizam Al-Muluk di Maroko. Sejarah singkat masing-masing pusat studi islam di gambarkan sebagai berikut:
a.        Nizhamiyah di Baghdad
Perguruan tinggi Nizhamiyah di Baghdad ini berdiri pada tahun 445 H/1063 M. Perguruan tinggi ini dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya raya di baghdad, yakni Bait Al-Hikmah yang dibangun oleh Khalifah Al-Makmun (813-833 M), salah seorang ulama besar yang pernah  mengajar di sana, adalah ahli pikir islam terbesar, Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111 M), yang kemudian terkenal dengan sebutan Imam Ghazali.
Di lembaga ini ada empat unsur pokok, yakni (1) seorang mudarris (guru besar) yang bertanggung jawab terhadap pengajaran di lembaga pendidikan, muqri’ (ahli Al-Qur’an) yang mengajar Al-Qur’an di masjid, muhaddis (ahli hadis) yang mengajar hadis lembaga pendidikan, dan seorang pustakawan (Bait Al-Maktub) yang bertanggung jawab terhadap perpustakaan, mengajar bahasa dan hal-hal yang terkait.
Perguruan tinggi tertua di Baghdad ini hanya sempat hidup hampir dua abad. Yang akhirnya hancur akibat penyerbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulaghu Khan pada tahun 1258 M.
b.        Al-Azhar di Kairo Mesir
Panglima besar Juhari Al-Siqili pada tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi Al-Azhar dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Hakim Biamrillah (966-1020), khalifah keenam dari Daulat Fathimiyah, ia pun membangun perpustakaan terbesar di Al-Qahirah untuk mendampingi Perguruan Tinggi Al-Azhar, yang diberi nama Bait Al-Hikmah (Balai ilmu pengetahuan), seperti nama perpustakaan terbesar di Baghdad.
Pada tahun 567 H/1171 M Daulat Fathimiyah di tumbangkan oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi yang mendirikan Daulat Ayyubiyah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk kembali kepada Daulat Abbasyiah di Baghdad. Kurikulum pada perguruan tinggi Al-Azhar lantas mengalami perombakan total, dari aliran Syi’ah  kepada aliran Sunni. Ternyata perguruan tinggi al-Azhar ini mampu hidup terus sampai sekarang, yakni sejak abad ke-10 M sampai abad ke-20 M dan  tampaknya akan tetap selama hidupnya.
Universitas al-Azhar dapat dibedakan menjadi dua periode : pertama, periode sebelum tahun 1961 dan kedua, periode setelah 1961, dimana fakultas-fakultasnya sama seperti yang ada di IAIN sekarang, dan periode setelah tahun 1961, dimana fakultas-fakultas dan ilmu-ilmu yang dikaji telah meliputi seluruh cabang ilmu pengetahuan umum dan agama. Kalau peride pertama kita sebut periode Qadim (lama), dan kedua sebagai periode Jadid (baru), maka yang dicontoh IAIN selama ini ialah Al-Azhar periode Qadim.
c.         Perguruan Tinggi Cordova
Adapun sejarah singkat Cordova dapat digambarkan demikian, bahwa di tangan Daulat Ummayah, semenanjung Liberia yang berabad-abad sebelumnya terpandang daerah minus, berubah bagaikan disulap menjadi daerah yang makmur dan kaya raya akan pembangunan bendungan-bendungan irigasi  di sana sini menuruti contoh lembah Nil dan lembah Ephrate. Bahkan pada masa berikutnya, Cordova menjadi pusat ilmu dan kebudayaan yang gilang gemilang sepanjang zaman tengah. The Historians’ History of the World menulis tentang peri keadaan pada masa pemerintahan Amir Abdurrahman I (756-788 M) itu, sebagai berikut, demikian tulis buku sejarah terbesar tersebut tentang perikeadaan Andalusia waktu itu, yang merupakan pusat intelektual di eropa dan dikagumi kemakmurannya. Sejarah mencatat, sebagai contoh, bahwa Aelhoud dari Bath (Inggris) belajar ke Cordova pada tahun 1120 M, dan pelajaran yang dituntunnya adalah geometri, algebra (aljabar), matematik. Gerard dari Cremona belajar di Toledo seperti halnya Aelhoud ke Cordova. Begitu pula tokoh-tokoh lainnya.

d.        Kairawan Nizam al-Muluk di Maroko
Perguruan tinggi Kairwan ini berada di kota Fez (Afrika Barat). Perguruan tinggi ini bermula dibangun pada tahun 859 M oleh puteri seorang saudagar hartawan di kota Fez, yang berasal dari Kairawan (Tunisia). Pada tahun 305 H/918 M perguruan tinggi ini diserahkan kepada pemerintah dan sejak saat itu menjadi perguruan tinggi resmi, yang perluasan dan perkembangannya berada di bawah pengawasan dan pembiayaan negara.
Seperti halnya perguruan tinggi Al-Azhar, perguruan tinggi Kairawan masih tetap hidup sampai sekarang. Di antara sekian banyak alumninya adalah pejuang nasionalis muslim terkenal, diantaranya adalah Allal Al-Fasi, dan Mahdi Ben Barka, yang berhasil mencapai kemerdekaan Maroko dari penjajahan Perancis sehabis perang Dunia kedua, lalu pejabat PM Maroko di bawah Sultan Muhammad V. Sedangkan ilmuan termasyhur yang pernah menjadi maha gurunya antara lain Ibnu Thufail (1106-1185 M) dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M), pada masa Daulat Almuwahhidin dari Eropa, maka nama Avenbacer (Abu bakar Ibnu Thufail) dan Averroes (Ibnu Rusyd) dan Avempas (Ibnu Bajah) dan Alhazem (Imnu Hazmi) dan lainnya, amat populer dan harum di Eropa.
Sebagai catatan, perguruan tinggi Al-Azhar (972 M) di Mesir, dan perguruan tinggi Kairwan (859 M) di Maroko, adalah lebih tua dibandingkan dengan perguruan tinggi Oxford (1163 M) dan perguruan tinggi Cambridge (1209 M) di Inggris, dan perguruan tinggi Sorbonne (1253  M) di Perancis, perguruan tinggi Tubingen (1477 M) di Jerman, dan perguruan tinggi Edinburg (1582 M) di Skotlandia.
Penyebab utama kemunduruan dunia muslim, khususnya di bidang ilmu pengetahuan adalah terpecahnya kekuatan politik yang digoyang oleh tentara bayaran Turki. Kemudian dalam kondisi demikian datang musuh dengan membawa bendera perang salib. Akhirnya, Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan ketika itu dihancurkan Hulaghu Khan tahun 1258 M. Pusat-pusat studi termasuk yang dihancurkan Hulaghu Khan.
Dapat di simpulkan dari berbagai perguruan tinggi yang telah muncul di dunia timur tersebut itu membuktikan bahwasannya dunia islam pernah menguasai dunia ilmu pengetahuan khususnya di dunia timur.dan ini juga membuktikan bahwa ajaran agama islam merupakan ajaran yang sempurna baik dari segi ilmu ketuhanan maupun ilmu yang berkaitan dengan dunia.


2.    Sejarah Perkembangan Studi Islam di Dunia Barat
Kemajuan peradaban barat dimulai pada Periode Pertengahan (1250-1800 M), yang mana peradaban islam pada periode ini mengalami stagnasi. Sedangkan peradaban barat mengalami perkembangan yang sangat pesat dari ilmu pengetahuan dan teknologi sampai sekarang ini. Sebenarnya perkembangan tersebut banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa Andalusia (Spanyol) pada massa pemerintahan Bani Abbasiyah adalah merupakan salah satu tempat yang paling utama bagi Eropa dalam menyerap peradaban islam baik dalam bentuk hubungan politik, negara, maupun perekonomian dan peradaban antar negara. Salah satu contoh yang kami ambil adalah pemikiran Ibnu Rusyd yang melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berfikir.
Dari pemikiran Ibnu Rusyd inilah yang menarik minat orang-orang barat untuk belajar. Diantara pemuda Kristen Eropa yang belajar di Universitas-Universitas Islam di Andalusia, seperti Universitas Codova (pendirinya abd Al Rahman III), Seville, Malaga, Granada dan Salamanca. Selama mereka belajar di lembaga-lembaga tersebut, mereka aktif menterjemahkan buku-buku karya para ilmuan muslim. Pusat kegiatan terjemahan itu berada di Toledo. Setelah mereka kembali kenegara masing-masing, mereka mendirikan Sekolah-sekolah dan Universitas. Universitas yang pertama mereka dirikan di Eropa pada tahun 1231 Masehi.
Jadi, sudah jelaslah menurut kami, bahwa latar belakang Berkembanganya Studi Islam di Dunia Barat adalah disebabkan para pelajar barat yang datang ke Jazirah Arabiyah untuk belajar. Disamping itu juga mereka telah berhasil menterjemahkan karya-karya ilmuan muslim kedalam bahasa latin.
Gerakan ini pada akhirnya menimbulkan massa pencerahan dan revolusi industri, yang menyebabkan Eropa maju. Dengan demikian Andalusia merupakan sumber-sumber cahaya bagi Eropa, memberikan kepada benua itu manfaat dari ilmu dan budaya Islam selama hampir tiga abad.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan bahwa, dinamika studi Islam di Barat begitu pesat dimana ditandai dengan adanya pusat kajian keagamaan semisal, didirikannya The development of Islamic Studies in Canada, Temple University, Leiden University dan Chicago University. Selain itu, ditandai dengan adanya kajian-kajian baru dalam studi Islam di Barat diantaranya pembaruan pemikiran Islam, dakwah Islam, pendidikan Islam, Politik Islam, dan Ekonomi Islam. Dalam mempelajari Islam, tentunya mereka mempunyai tujuan antara lain untuk menarik simpati umat Islam, melemahkan Islam dari dalam, menunjukkan superioritas Barat, memperjuangkan doktrin Barat, dan kepentingan negara-negara Barat lainnya.
Dinamika studi Islam di Timur dimulai dengan diawali pembelajaran Islam di masjid-masjid dan rumah, kemudian berkembang menjadi sekolah dan gedung, dan dilanjutkan dengan adanya pemisahan ilmu agama dan umum.

Comments

Popular Posts